Kamis, 19 Januari 2012

Terungkap Rasa Keenam Pada Lidah

INILAH.COM, London – Selama bertahun-tahun, diketahui lidah mampu merasakan empat rasa, yakni manis, asam, asin dan pahit. Kemudian muncul rasa kelima, gurih. Kini rasa keenam juga muncul. Apa itu?

Beberapa orang memiliki indera perasa keenam untuk lemak dan bagi mereka di mana indera ini kurang kuat, akan lebih bisa menerima rasa tersebut. Hingga kini, terdapat anggapan keinginan memakan makanan berlemak terkait sistem sensor di mana beberapa orang tertarik pada bau dan teksturnya.

Kini para ilmuwan yakin, sebuah varian genetik membuat beberapa orang lebih sensitif pada molekul lemak. Para ilmuwan di Washington University School of Medicine menemukan, orang obesitas yang menginginkan makanan berlemak terkait pada tingkat reseptor CD36.

Mereka yang memiliki tingkat CD36 tinggi, lebih baik dalam mendeteksi keberadaan makanan berlemak.

“Temuan ini bisa digunakan merawat orang obesitas agar sensitif pada lemak,” tutup profesor peneliti Nada Abumrad, seperti dikutip DM.

Daging Sintetis Mulai Beredara Dipasaran


INILAH.COM, London – Para ilmuwan berhasil membuat daging di lab dan kini mereka sedang mencari cara menjualnya. Daging ini akan menjadi alternatif daging dari hewan. Seperti apa?

Tim ilmuwan yang terdiri dari 30 ilmuwan dari seluruh dunia sedang bekerja membuat daging buatan ini di lab. Daging ini memiliki misi untuk membantu memecahkan masalah kelaparan di dunia.

Melalui daging buatan ini, pembunuhan hewan bisa dikurangi. Kelompok pemerhati hewan PETA menjanjikan hadiah US$1 juta (Rp9 miliar) bagi ilmuwan yang mampu membuktikan daging buatan ini bisa dijual secara komersial sebelum 2016 seperti dikutip DM.

Kini, Food Safety News mengindikasikan, tahun ini, terobosan tersebut akan tercapai.

Dr Mark Post dari University of Maastricht di Belanda nampaknya memiliki ‘senjata’ untuk memenangkan hadiah tersebut. Ilmuwan ini mampu membuat daging sapi buatan di lab. NamunPETA menginginkan daging ayam buatan. '

Kita lihat saja ke depannya.

Logam Paling Ringan Hampir Seringan Udara

WASHINGTON, KOMPAS.com — Para ilmuwan dari Universitas California Irvine, HRL Laboratories, dan California Institute of Technology di Amerika Serikat berhasil menciptakan material logam paling ringan. Saking ringannya, bahkan bisa disebut hampir seringan udara.

Material paling ringan itu disebut ultralight metallic micriolattice. Publikasi di jurnal Science, Jumat (18/11/2011) lalu, menyebut, material ini 100 kali lebih ringan daripada styrofoam.

Ilmuwan mengungkap, rahasia ringannya material adalah pada arsitektur tingkat selulernya. Material tersusun dari 99,99 persen udara dan hanya 0,01 persen unsur padat. Komponen material padatnya terdiri atas 90 persen nikel. Susunannya membuat massa jenis material ini bahkan kurang dari seperseribu massa jenis air.

"Triknya adalah membuat susunan tabung berongga (skala nanometer) dengan ketebalan 1.000 kali lebih tipis dari rambut manusia," kata Tobias Shandler dari HRL Laboratories seperti dikutip Physorg, Jumat.

Ilmuwan mengatakan, material ini begitu ringan sehingga seperti bulu burung saat jatuh. Butuh waktu 10 detik bagi material ini untuk menyentuh tanah jika dijatuhkan dari ketinggian bahu orang dewasa sehingga mungkin tak cepat rusak.

Peneliti menuturkan, material ultraringan ini sangat cocok untuk tujuan perlindungan. Material ini sangat bermanfaat bagi dunia kedirgantaraan, peredam akustik, dan juga pada baterai. Saat ini, material ini dikembangkan untuk Defense Advanced Research Projects Agency.

Ulat Sutra Khusus Ciptakan Jaring Spider-Man

Ilmuwan Amerika Serikat menciptakan ulat sutra yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan sutra berkualitas super.

Dalam jurnal ilmu pengetahuan PNAS, para ilmuan dari Universitas Wyoming mengatakan tujuan mereka adalah memproduksi sutra dari ulat dengan hasil yang sama kuat dengan jaring laba-laba.

Sutra laba-laba memiliki kualitas unggul karena jauh lebih kuat dari besi.

Dalam komik, tokoh Spider-Man menggunakan jaring sutra laba-laba untuk menjerat penjahat dan melompat dari gedung-gedung pencakar langit di kota.

Para peneliti telah berusaha mereproduksi sutra seperti itu selama puluhan tahun karena menternakkan laba-laba secara komersial tidak memungkinkan. Laba-laba tidak bisa memproduksi cukup jaring untuk kepentingan produksi, selain itu mereka juga cenderung kanibal jika berada di satu tempat bersama-sama.

Sebaliknya, ulat sutra mudah diternakkan dan dapat memproduksi sutra dalam jumlah besar, namun kualitas bahan yang dihasilkan tergolong rentan.

Selama bertahun-tahun, para peneliti berusaha mengawinkan kualitas-kualitas unggul dari kedua serangga ini dengan mentransplantasi gen laba-laba ke ulat. Namun ulat sutra hasil modifikasi genetik itu masih belum mampu menghasilkan cukup sutra laba-laba hingga saat ini.

Ulat yang dinamakan GM itu, diciptakan oleh tim pimpinan Professor Don Jarvis dari Universitas Wyoming dan mampu memproduksi sutra laba-laba dalam jumlah besar.

Mengomentari hasil penelitian ini, Dr Christopher Holland dari Universitas Oxford mengatakan temuan itu mewakili langkah menuju produksi komersial sutra super.

"Intinya, hasil penelitian ini menunjukkan mereka mampu mengambil satu komponen dari sutra laba-laba dan membuat ulat sutra menenunnya menjadi serat bersama-sama dengan sutra alami mereka," kata Holland.

Sutra super ini bisa digunakan untuk memproduksi benang jahit operasi yang lebih kuat atau bahan implan. Namun sutra laba-laba GM juga bisa digunakan sebagai pengganti ramah lingkungan untuk plastik.

Ada kekhawatiran mengenai bahaya lingkungan jika ulat GM lepas ke alam bebas, tapi menurut Professor Guy Poppy dari Universitas Southampton, ulat tersebut tidak berbahaya terhadap lingkungan(kompas.com)

Baru 20 Persen Flora yang Teridentifikasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia kaya akan keragaman flora. Namun, dari sekian banyak yang diketahui, saat ini baru ada 8.000 jenis yang sudah teridentifikasi. Jumlah tersebut diperkirakan baru 20 persen dari jumlah flora yang ada di Indonesia.

"Dari jumlah total yang dimiliki empat kebun raya LIPI, yakni Bogor, Cibodas, Purwodadi, dan Bali, ada 4.000 sampai 6.000 yang belum teridentifikasi. Itu adalah nomor koleksi, bukan jenis," kata Mustaid Siregar, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI.

Dihubungi Rabu (30/11/2011), Mustaid mengatakan, dari sejumlah nomor koleksi, ada beberapa jenis yang kemungkinan merupakan spesies yang sama. Analisis morfologis dan mungkin molekuler dibutuhkan untuk identifikasi koleksi itu.

Menurut Mustaid, saat ini diperlukan keberpihakan pemerintah pada riset eksploratif seperti taksonomi. Ia menilai, keberpihakan pemerintah saat ini sangat minim sebab kegiatan riset dipusatkan pada bidang-bidang yang aplikatif.

"Pemerintah untuk bidang riset prioritasnya adalah riset yang applied. Padahal, riset eksploratif, seperti taksonomi ini, sangat dibutuhkan. Kami perlu mendata kekayaan kita. Coba kalau kami mau bicara Protokol Kyoto dan benefit sharing, inventarisasi itu penting," kata Mustaid.

Salah satu yang diperlukan saat ini adalah ahli taksonomi. Jumlah taksonom masih sangat minim sehingga kesulitan melakukan penelitian. Diperlukan pula pengembangan koleksi flora sebab banyak koleksi yang bermanfaat untuk identifikasi berada di luar negeri.

Partikel Baru Ditemukan

PARIS, KOMPAS.com - Ilmuwan yang bekerja di Large Hadron Collider (LHC) di perbatasan Swiss dan Perancis berhasil menemukan partikel baru, bernama Chi_b (3P). Hasil penelitian telah masuk ke Arxiv pre-print server.

Profesor Roger Jones yang bekerja di LHC mengatakan bahwa keberadaan partikel tersebut telah diduga sejak bertahun-tahun lalu. Namun, belum ada ilmuwan yang berhasil membuktikan keberadaanya hingga penelitian ini.

"Partikel ini tersusun antas quark dan anti quark yang saling terikat," kata Jones. Quark adalah partikel elementer dan penyusun fundamental sebuah materi. Anti quark bisa dikatakan lawan dari quark atau penyusun anti materi. "Partikel ini juga menarik karena mengatakan pada kita tentang gaya yang mengikat quark dan anti quark, gaya inti yang kuat. Dan gaya itu adalah gaya yang sama seprti misalnya yang mengikat nuleus bersama proton dan elektron," tambah Jones.

LHC berkutat pada penemuan partikel Higgs yang bisa menerangkan alasan materi memiliki massa dan menjawab teka-teki terbentuknya semesta. Jones seperti dikutp BBC, Kamis (22/12/2011) menuturkan bahwa penemuan Chi_b (3P) bakal membantu pencarian Higgs.

Penemuan partikel ini merupakan yang pertama yang bisa dipastikan sejak LHC beroperasi tahun 2009. Penemuannya seolah memberi janji akan kelangsungan misi LHC berikutnya. Hasil penemuan akan memperkaya wawasan sekaligus mendorong perkembangan baru dalam dunia fisika.

Sperma Berhasil Ditumbuhkan di Cawan Laboratorium

LONDON, KOMPAS.com - Tim peneliti yang dipimpin oleh Professor Stefan Schlatt dari Universitas Munster, Jerman, berhasil menumbuhkan sperma tikus di laboratorium. Sperma itu ditumbuhkan di cawan dengan benih dari sel di testis tikus dan setelah diteliti tidak memiliki abnormalitas.

Hasil ini membuat peneliti semakin optimis bahwa suatu saat manusia yang tidsak subur bisa tetap memiliki anak tanpa bantuan sperma donor. Nantinya, benih dari sel di testis manusia yang bertanggungjawab memproduksi sperma bisa diambil dan ditumbuhkan di laboratorium.

"Saya percaya bahwa sangat mungkin untuk menumbuhkan sperma dengan menggunakan jaringan yang mengandung sel benih sperma yang diambil dari testis untuk selanjutnya menstimulasi produksi sperma di laboratorium," kata Mahmoud Huleihel, peneliti Israel yang terlibat penelitian.

Seperti dikutip Foxnews, Selasa (3/1/2012), Huleihel mengatakan, "Butuh waktu beberapa tahun bagi kita untuk sampai pada tahap ini, jadi teknik untuk menumbuhkan sperma manusia tidak akan datang dalam semalam, tapi kami telah memulai riset tersebut setelah kesuksesan pada tikus ini."

Studi ini dipublikasikan di Asian Journal of Andrology. Studi ini muncul tak berapa lama setelah ilmuwan Jepang berhasil mengubah sel punca menjadi sel sperma, yang kemudian digunakan untuk mem-fertilisasi sel telur. Tampaknya masa depan bagi manusia infertil untuk memiliki anak semakin cerah.

100 Molekul Baru Kurkumin Kunyit Ditemukan


YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menemukan 100 molekul baru kurkumin kunyit (Curcuma longa). Delapan di antaranya telah dipatenkan.

"Kurkumin telah dikembangkan menjadi molekul baru yang mempunyai efek analgetika-antiinflamasi dan bisa dimanfaatkan sebagai terapi kanker," kata peneliti kurkumin dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Supardjan di Yogyakarta, Selasa (17/1/2012).

Berdasarkan penelitiannya, kunyit terbukti mengandung senyawa kurkuminoid yang berwarna kuning, yang mengandung molekul kurkumin, demetoksin kurkumin, dan bisdemetoksin kurkumin.

"Untuk turunannya kurkumin ini bahkan sudah diteliti lebih lanjut. Turunan yang merah lebih ke antiinflamasi, sedangkan yang berwarna kuning lebih untuk melindungi hati (hepatotoksik)," katanya.

Secara umum, berdasarkan uji klinis, kurkumin telah terbukti memiliki khasiat antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antikanker, dan antitumor.

Peneliti farmakologi Fakultas Kedokteran UGM Nyoman Kertia mengatakan, ekstrak rimpang kunyit juga efektif sebagai antiradang pada penderita penyakit sendi (osteoartritis).

"Ekstrak rimpang kunyit memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar malondialdehida (MDA) cairan sinovia sendi lutut," kata Kertia.

Selain itu, kunit juga menyembuhkan diabetes. Kunyit sudah banyak digunakan sebagai obat herbal bagi masyarakat Indonesia. Sayang, uji klinis lebih lanjut masih terhambat dana.

Partikel Ini Bergerak Lebih Cepat dari Cahaya

KOMPAS.com — Para fisikawan di Laboratorium Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) di Geneva, Swiss, Jumat (23/9/2011) waktu setempat, mengumumkan keberhasilan mereka menemukan keberadaan partikel yang bisa bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

Partikel yang disebut sebagai neutrino ini memiliki kecepatan 20 per 1 juta di atas kecepatan cahaya. Berdasarkan teori relativitas khusus yang dikemukakan Albert Einstein pada 1905, kecepatan cahaya mencapai 299.792 kilometer per detik atau yang sering dibulatkan menjadi 300.000 kilometer per detik. Ini merupakan kecepatan tertinggi di alam semesta. Neutrino merupakan partikel elementer yang memiliki massa sangat kecil, nyaris mendekati nol.

Eksperimen untuk menguji kecepatan neutrino ini dinamai Oscillation Project with Emulsion-tRacking Apparatus (OPERA) yang dilakukan di Gran Sasso National Laboratory, Italia, pada kedalaman 1.400 meter. Tujuan penelitian adalah menguji neutrino yang ditembakkan dari CERN.

Juru Bicara OPERA, Antonio Ereditato, dari Universitas Bern, Swiss, mengatakan, temuan ini sebagai kejutan yang sempurna. Para peneliti mengakui, hasil penelitian ini akan menimbulkan pro-kontra karena melawan hukum fisika yang sudah mapan selama lebih dari 100 tahun.

Untuk itu, pengukuran lain yang independen diperlukan guna menguji temuan ini. Direktur Penelitian CERN Sergio Bertolucci mengatakan, jika hasil pengukuran mereka bisa dikonfirmasi oleh ilmuwan lain, temuan ini akan mengubah pandangan umat manusia tentang fisika. (CERN.CH/LIVESCIENCE.COM/MZW

Gen Khusus Perlambat Penuaan Lalat

KOMPAS.com - Ahli biologi dari Universitas California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, menemukan gen PGC-1 penghambat proses penuaan lalat buah (Drosophila melanogaster). Gen ini meningkatkan aktivitas mitokondria: organ sel penghasil energi utama pengontrol pertumbuhan dan memberi tahu sel kapan hidup atau mati.

Asisten profesor biologi integratif dan fisiologi UCLA, David Walker, mengujikan gen PGC-1 dengan menempatkannya di jaringan lain pada lalat buah. Hasilnya, saat PGC-1 ditempatkan pada saluran pencernaan lalat, lalat hidup lebih lama, hingga 50 persen usia hidupnya yang umumnya hanya dua bulan.

”Hasil ini tak tampak ketika gen PGC-1 ditempatkan pada jaringan syaraf, otot, dan jaringan lain,” katanya, Rabu (9/11).

Selama ini, para ahli berpikir penuaan dapat dihambat lewat jaringan otak atau jantung. Ternyata, usus berperan besar menghambat penuaan, bukan hanya dalam penyerapan makanan. Usus juga menghambat racun dan patogen dari lingkungan.

Gen ini bisa untuk obat-obatan melawan penyakit terkait penuaan, seperti alzheimer, parkinson, kanker, dan jantung. (SCIENCEDAILY/MZW)

Kepiting Berambut Bisa "Bertani" di Laut Dalam

OREGON, KOMPAS.com - Tahun 2006, ilmuwan menemukan spesies kepiting buta yang hidup di celah resapan metana 1.000 meter di bawah permukaan laut Kosta Rica. Dalam publikasi di jurnal PLoS ONE, Rabu (30/11/2011), Andrew Thurber, ilmuwan yang mengidentifikasi, mendeskripsikannya sebagai Kiwa puravida, berarti kehidupan murni.

Spesies itu merupakan spesies kedua dari golongan kepiting yeti, yakni kepiting yang punya lengan-lengan panjang dan berambut. Sebelumnya, ditemukan spesies kepiting putih buta (Kiwa hirsuta) di kedalaman 2.300 meter laut dekat wilayah Easter Island.

Andrew Thurber, peneliti biologi kelautan dari Oregon State University, AS, mengungkapkan bahwa hal yang paling menarik dari Kiwa puravida ialah kemampuannya "bertani". Ini diketahui ilmuwan ketika melakukan pengamatan dengan kamera.

Lengan Kiwa puravida selalu bergerak. Gerakan ternyata bisa mengumpulkan nutrisi, oksigen dan belerang. Akibat gerakan, lengan kepiting pun menjadi wilayah kaya nutrisi, yang lalu menjadi lahan empuk bagi bakteri untuk tumbuh. Kepiting kemudian memanen bakteri yang tumbuh sebagai makanan.

Dengan kemampuan kepiting bertani, Thurber mengatakan, "Kami menunjukkan dengan jelas bahwa spesies ini tidak menggunakan energi dari Matahari sebagai sumber makanan utama. Dia menggunakan energi kimia yang berasal dari dasar lautan."

Salah satu sumber makanan di laut adalah fitoplankton, biota yang hidup dengan berfotosistesis layaknya tumbuhan di darat, membutuhkan sinar matahari. Karena tak memakannya, maka Kiwa puravida tidak membutuhkan energi dari Matahari.

"Penemuan ini menunjukkan betapa sedikitnya kita tahu tentang laut dalam, betapa banyak yang harus kita temukan dan lindungi ketika ekspansi eksploitasi sumber daya telah sampai ke area ini," ungkap Thurder.

Ditemukan, Molekul Pendingin Bumi

LONDON, KOMPAS.com - Ilmuwan telah lama memprediksi adanya molekul pendingin Bumi. Keberadaan molekul itu akhirnya berhasil dibuktikan. Molekul tersebut bernama Criegee biradikal.

Peneliti dari Universitas Manchester, Universitas Bristol dan Laboratorium Nasional Sandia adalah yang berhasil membuktikan keberadaannya. Mereka mengatakan bahwa Criegee biradikal ialah mampu mengoksidasi polutan seperti nitrogen dioksida dan sulfur dioksida yang berasal dari pembakaran.

Keberadaan molekul tersebut dideteksi dengan menggunakan cahaya dari fasilitas synchroton generasi ketiga di Advance Light Source yang ada di Lawrence Berkeley National Laboratory.

Cahaya yang intens dan dapat disesuaikan yang berasal dari synchroton itu memungkinkan ilmuwan membedakan jenis isomer berbeda, molekul yang terdiri atas atom yang sama tapi memiliki susunan yang berbeda.

Berdasarkan penelitian, biradikan Criegee bereaksi dengan polutan lebih cepat dari yang diduga. Molekul ini mempercepat memacu pembentukan aerosol di atmosfer serta pembentukan awan. Ini memungkinkan molekul ini untuk berfungsi sebagai pendingin planet.

"kami telah mampu mendukung seberapa cepat biradikal Criegee bereaksi untuk pertama kalinya. Hail ini memberi dampak yang signifikan pada pemahaman kita tentang kapasitas oksidasi atmosfer serta implikasi luas pada polusi dan perubahan iklim," ungkap Carl Percival, pakar dari Universitas Machester, seperti dikutip TG Daily, Senin (16/1/2012).

"Sumber biradikal Criegee tidak tergantung pada cahaya Matahari, jadi prosesnya bisa terjadi pada siang dan malam hari," tambah Percival.

Dan, kini mungkin molekul ini juga sudah berperan melindungi planet kita.

"Bahan yang dibutuhkan untuk produksi biradikal Criegee berasal dari senyawa kimia yang dilepaskan secara alami oleh tumbuhan, jadi ekosistem secara signifikan berperan dalam mencegah pemanasan," kata Sudley Shallcross dari Universitas Bristol.

Jika berharap dengan adanya molekul ini manusia bisa membabat hutan seenaknya dan mencegah perubahan iklim dengan molekul pendingin ini, tampaknya itu takkan bisa dilakukan.

Perubahan Iklim, Burung Terbang Lebih Cepat

CHIZE, KOMPAS.com - Perubahan iklim dikaitkan dengan perubahan kecepatan angin. Di perairan selatan dekat Antartika, kecepatan angin kini semakin meningkat. Alhasil, burung-burung pun seolah dimudahkan sehingga bisa bergerak lebih cepat.

Salah satu burung yang kini terbukti terbang lebih cepat adalah elang laut. Burung tersebut mengandalkan angin untuk membantunya terbang. Dengan peningkatan kecepatan angin, burung bisa mencari makan lebih cepat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, peningkatan kecepatan angin mempersingkat waktu elang laut mencari makan. Dari 12,4 hari pada tahun 1970an menjadi hanya 9,8 hari di tahun 2008.

Makin singkatnya waktu mencari makan membuat waktu puasa elang laut pun lebih pendek. Alhasil, elang laut makin gemuk. Dari pengukuran yang dilakukan, massa elang laut meningkat hampir 1 kg lebih tinggi.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan kecepatan angin sangat menguntungkan," kata Henri Weimerskirch, pakar ekologi burung laut dari Chize Center for Biological Studies, seperti dikutip New York Times, Senin (16/1/2012).

"Peningkatan kecepatan angin umum terjadi di perairan mana saja, tetapi di perairan selatan, hal ini lebih terlihat," imbuh Weimerskirch yang melakukan penelitian di kepulauan Crozet, 40 tahun terakhir.

Semuanya terkesan apik sekarang. Tapi, bagaimana jika kecepatan angin terus meningkat dan melampaui batas. Hal ini pasti akan merugikan burung dan boleh jadi mengakibatkan kematian massal jenis tertentu.

Sebab peningkatan angin di Antartika belum bisa dipastikan. Namun, diperkirakan perubahan iklim merupakan salah satu pemicunya. Lubang ozon juga faktor yang mempengaruhi

Karbondioksida Merusak Otak Ikan

QUEENSLAND, KOMPAS.com - Karbondioksida (CO2) yang konsentrasinya terus meningkat terbukti berpengaruh terhadap ikan yang hidup di lautan. Demikian hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change

baru-baru ini.

"Dan sekarang cukup jelas bahwa gas CO2 menyebabkan kerusakan signifikan pada sistem saraf pusat ikan, yang akan berdampak pada ketidakmampuan untuk survive," ungkap Phillip Muday, peneliti, seperti dilaporkan AFP, Senin (16/1/2012).

"Kami menemukan bahwa peningkatan CO2 terlarut di laut bisa mempengaruhi fungsi neurotransmitter secara langsung, yang akan menjadi ancaman langsung dan tak pernah dikenal sebelumnya," tambah Munday.

Munday mempelajari bagaimana perilaku baby clownfish atau ikan nemo dan damselfish (Stegastes nigricans) di tengah predator pada lingkungan yang kadar CO2-nya tinggi. Peneliti menemukan bahwa konsentrasi CO2 memang mempengaruhi baby clownfish dan damselfish.

"Hasil kami menunjukkan bahwa kemampuan membaui para bayi ikan terganggu oleh besarnya konsentrasi CO2 dalam air, artinya bahwa mereka sulit menemukan karang untuk berlindung maupun mendeteksi bau ikan predator," jelas Munday.

Hasil juga menunjukkan bahwa indera pendengaran ikan juga terganggu akibat kadar CO2 tinggi. Ini menyebabkan ikan lebih rentan terhadap predator. Sementara itu, ikan juga kehilangan insting untuk bergerak ke kiri dan kanan.

"Ini semua menunjukkan pada kita bahwa bukan kerusakan ringan yang terjadi pada indera mereka, tetapi bahwa level CO2 yang tinggi mempengaruhi seluruh sistem saraf pusat," papar Munday.

Munday mengatakan, 2,3 miliar ton emisi CO2 terlarut dalam air setiap tahunnya. Ini akan mengancam ikan dan organisme laut lain. Riset ini dilakukan oleh Center of Excellence for Coral Reef, Australia

Ular beranak tanpa kawin

KOMPAS.com - Reproduksi aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa disertai pembuahan sel telur oleh sperma, adalah hal yang umum terjadi pada hewan tak bertulang belakang. Tapi, reproduksi cara tersebut bisa sangat mengejutkan bila terjadi di kelompok hewan bertulang belakang atau yang sering disebut vertebrata, walaupun bukan berarti tidak ada.

Baru-baru ini peneliti dikejutkan dengan adanya spesies ular yang mampu bereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebut partenogenesis. Spesies tersebut adalah Boa constrictor, atau biasa disebut boa, golongan ular tak berbisa yang memiliki badan relatif besar dan biasa ditemukan di Karibia, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Temuan itu dimulai ketika Warren Booth, ahli Genetika Populasi dan Evolusi dari Virginia State University, menemukan seekor boa yang melahirkan 22 anakan. Boa yang ditemukan di Boa Store Tennesee ini melahirkan anakan yang seluruhnya betina dan karakteristiknya sama dengan induknya, berwarna karamel.

Setelah melakukan tes DNA pada boa betina yang ditemukan dan pejantan yang ada di tempat tersebut, Booth sangat yakin bahwa boa yang ditemukannya bereproduksi secara partenogenesis. Pasalnya, tak mungkin anakan yang dihasilkan memiliki karakter yang jarang itu jika tidak menuruni gen dari kedua induknya.

Booth menemukan sesuatu yang unik pada partenogenesis boa ini. "Partenogenesis ini dilakukan saat ada pejantan di tempat itu," ujar Booth. Hal tersebut, menurut Booth, berbeda dengan partenogenesis pada umumnya yang dilakukan ketika tak menemukan pasangan kawin. Hingga kini, Booth belum menemukan alasan partenogenesis pada ular tersebut.

Keunikan yang lain adalah materi genetik yang terdapat pada anakan. Pada ular, anakan jantan biasanya akan memiliki kromoson ZZ dan anakan betina memiliki kromosom ZW. Namun, anakan boa ini berbeda sebab kromosom anakannya adalah WW dan berjenis kelamin jantan. "Ini mengejutkan. Selama ini, ilmuwan berpandangan bahwa anakan dengan kromosom WW tidak akan berkembang," jelas Booth.

Booth mengatakan, kemampuan boa dalam melakukan partenogenesis ini bisa berdampak negatif. "Mereka kehilangan jumlah keanekaragaman genetik. Boa itu akan cenderung secara fisik dan fisiologi yang berpengaruh pada kemampuannya untuk survive dan bereproduksi," terang Booth. Perhatian pada cara bereproduksi ini, menurut Booth, sangat penting dalam mengupayakan konservasi ular.

Hasil penelitian Booth dipublikasikan di jurnal online Biology Letters pada tanggal 3 November 2010

Ular Merasakan Denyut Jantung Mangsa

PENNSYLVANIA, KOMPAS.com - Ilmuwan menemukan bahwa ular boa konstriktor mempunyai kemampuan untuk merasakan denyut jantung mangsa. Penemuan dipublikasikan di jurnal Royal Society Biology Letters yang terbit bulan ini.

Penemuan itu terungkap setelah ilmuwan melakukan eksperimen dengan ular boa konstriktor, tikus mati dan jantung palsu yang terbuat dari kantung berisi air dan disambungkan ke selang, menjadi simulasi jantung dan pembuluh darah.

Jantung palsu dipasang di tikus yang telah mati. Selanjutnya, ilmuwan membiarkan ular memangsa tikus ini. Dalam waktu tertentu, detakan jantung palsu bisa dimatikan dengan remote control. Untuk mengukur kuat lilitan dan tekanan ular, ilmuwan juga menaruh sensor pada tikus mati.

Ilmuwan mendapatkan fakta bahwa ular boa konstriktor baru melepaskan mangsanya ketika sudah mati atau detak jantungnya berhenti. Ketika ilmuwan mempertahankan jantung palsu berdetak lebih lama, mereka menemukan bahwa ular boa konstriktor juga melilit lebih lama.

Scott Boback dari Dickinson College, Universitas Pennsylvania, seperti dikutip BBC, Rabu (18/1/2012) mengatakan, "Selama melilit, ular sebenarnya merasakan detak jantung mangsanya."

Ia menambahkan, "Banyak dari kita yang berpikir bahwa ular adalah pembunuh berani, tidak punya fungsi kompleks seperti yang dimiliki vertebrata yang lebih tinggi. Kami menemukan sebaliknya dan menduga bahwa sensitivitas yang luar biasa ini adalah kunci kesuksesan seluruh bangsa ular."

Ular perlu merasakan detak jantung mangsa untuk efisiensi energi. Ketika sudah tahu mangsa mati, lilitan dilonggarkan sehingga lebih sedikit energi yang dikonsumsi.

Kepiting Karapas Coklat Ditemukan di Papua

JAKARTA, KOMPAS.com — Satu lagi spesies baru dari Indonesia ditemukan. Spesies baru kali ini bernama Macrophthalmus fusculatus, sejenis kepiting yang punya karapas berwarna coklat.

Penemunya ialah dua staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dwi Listyo Rahayu dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Bio Industri Laut di Mataram dan Dharma Arif Nugroho dari UPT Loka Konservasi Biota Laut Ambon. Keduanya bernaung di bawah Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok, mengatakan bahwa jenis Macrophthalmus fusculatus memiliki beberapa ciri khas.

"Spesies ini bentuk karapasnya melebar di bagian posterior (bagian karapas yang terletak di antara kaki kelima), dan bentuk capitnya memanjang," ungkap Dwi lewat surat elektronik kepada Kompas.com, Rabu (18/1/2012).

"Secara sepintas jenis ini tampak kusam, berlumpur, dan kotor. Tetapi setelah dibersihkan dari lumpur, maka akan terlihat karapas yang berwarna coklat dengan beberapa kelompok tonjolan-tonjolan kecil (tubercles), dan capitnya yang halus. Menurut saya terlihat cantik dibawah mikroskop," tambah Yoyok.

Nama spesies ini sendiri diambil dari ciri khas karapas yang berwarna coklat. Secara harafiah, kata bahasa latin fuscus dalam bahasa Indonesia berarti coklat.

Macrophthalmus fusculatus memiliki ukuran kecil. Diameter karapasnya hanya 4-10 sentimeter. Sementara, habitatnya adalah pada substrat pasir berlumpur di hutan bakau.

"Sampai saat ini hanya ditemukan di hutan bakau di daerah Timika, Papua," kata Yoyok. Meski demikian, terbuka kemungkinan untuk menemukannya di perairan lain seperti Maluku dan Sulawesi.

Proses identifikasi spesies ini sebagai spesies baru memerlukan waktu cukup lama, 10 tahun.

"Macrophthalmus fusculatus pertama kali dikoleksi pada tahun 2001 ketika saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di Timika, Papua. Pada saat itu biota tersebut diidentifikasi sebagai jenis (species) yang sudah dikenal," tutur Yoyok.

Namun, Yoyok dan rekannya terus mengumpulkan spesimen-spesimen organisme yang masuk genus Marcophthalmus dari Papua dan Lombok. Sejak tahun 2008, pengamatan secara lebih detail dimulai. Hasil pengamatan dan perbandingan dengan koleksi genus Macrophthalmus di Raffles Museum of Biodiversity Research di Singapura menunjukkan bahwa kepiting karapas coklat ini spesies baru. Macrophthalmus fusculatus positif dinyatakan sebagai spesies baru pada tahun 2011.

Bersama penemuan spesies Macrophthalmus fusculatus ini, Yoyok dan rekannya juga menemukan 14 spesies lain dari genus Macrophthalmus, di antaranya spesies Macrophthalmus abbreviatus dan Macrophthalmus sulcatus malaccensis yang eksistensinya di Indonesia baru diketahui kali ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan jenis Macrophthalmus. Genus yang bercirikan tubuh pipih dan tangkai mata panjang ini diketahui hanya hidup di wilayah Indo-Pasifik Barat, mulai Laut Merah, Samudra Hindia, dan perairan Jepang. Penemuan organisme yang berhabitat di wilayah pesisir ini mempertegas bahwa hutan bakau dan wilayah pesisir perlu dijaga kelestariannya.

Penelitian Yoyok dan Dharma Arif Nugroho dipublikasikan di jurnal internasional taksonomi, Zootaxa, Kamis (12/1/2012).

Makhluk Setengah Hewan Setengah Tumbuhan

COPENHAGEN, KOMPAS.com — Penemuan spesies baru Mesodinium chamaeleon mengagetkan para ilmuwan. Spesies ini menarik perhatian karena karakteristiknya setengah hewan setengah tumbuhan. Ilmuwan yang semula menganggap bahwa tak mungkin ada makhluk di antara hewan dan tumbuhan pun harus berpikir ulang.

Mesodinium chamaeleon sebenarnya adalah organisme sel tunggal. Karakteristik yang membuatnya bisa dikatakan hewan adalah adanya cilia, organ sel yang digunakan untuk bergerak. Adanya organ memungkinkan spesies ini bergerak secara aktif mencari makan seperti layaknya hewan.

Sementara itu, karakteristik yang membuatnya dikatakan tumbuhan ialah adanya simbiosis dengan alga. Mesodinium chamaeleon "menelan" alga, membiarkannya tetap utuh dan berfotosintesis. Mesodinium chamaeleon juga membawa alga bergerak dan mengubah penampakan dirinya seperti warna alga, yakni merah atau hijau.

Ojvin Mooestrap, peneliti dari Universitas Copenhagen, Denmark, yang menemukan spesies itu seperti dikutip New Scientist, Jumat (13/1/2012), menyatakan, "Pembagian antara hewan dan tumbuhan benar-benar tidak ada." Mooestrap mengungkapkan, banyak organisme mungkin gabungan di antara keduanya.

Mesodinium chamaeleon ditemukan di Pantai Niva, Denmark. Spesimen lainnya juga ditemukan di lepas pantai Finlandia dan Rhode Island. Temuan organisme setengah tumbuhan cukup jarang. Selain Mesodinium chamaeleon, organisme yang punya ciri hampir sama ialah Mesodinium rubrum.

Bentuk simbiosis yang dilakukan Mesodinium chamaeleon dengan menelan alga disebut endosimbiosis. Bentuk simbiosis ini ialah yang terpenting dalam evolusi. Dua miliar tahun lalu, organisme sel tunggal menelan bakteri dan memperbudaknya sebagai pabrik energi. Akibat proses ini, terciptalah mitokondria yang pada organisme multisel dikenal sebagai pabrik energi.

Mesodinium chamaeleon mencerminkan bagaimana endosimbiosis berkembang. Penemuannya dipublikasikan di Journal of Eukaryotic Microbiology baru-baru ini
INILAH.COM, Jenewa – Waktu dunia akan segera mendapat tambahan beberapa detik agar selaras dengan pergerakan Bumi. Para ahli mempertimbangkan akan melakukan ini pekan ini.

Coordinated Universal Time (UTC) berdasarkan sekitar 400 jam atomik di lab yang ada di seluruh dunia di mana sering kali dikoreksi beberapa detik untuk menyelaraskannya dengan ragam rotasi Bumi seperti dikutip Foxnews.

Setelah bertahun-tahun berdebat, delegasi International Telecommunication Union (ITU) akan memutuskan hal ini hari ini, Kamis (19/1).

“Mustahil meramalkan kapan waktu tepat melakukan penambahan beberapa detik ini,” kata kepala ITU Vincent Meens.

Alasan penyelarasan ini adalah karena rotasi Bumi dan gempa yang memperlambat Bumi, lanjutnya.

“Semua sistem komputer perlu disesuaikan beberapa detik dan hal ini akan menciptakan masalah, karenanya hal ini harus dilakukan secara manual,” katanya.

ITU mengatakan, 13 dari 16 negara menyatakan hal ini memang harus dilakukan. Di sisi lain, Inggris, China dan Kanada menentang perubahan ini karena menurut Negara tersebut, hal ini akan menimbulkan kesenjangan antara waktu Bumi dan waktu atomik sekitar 15 detik di tiap 100 tahun.

Makan Coklat Bikin Jago Matematika

INILAH.COM, Jakarta – Coklat selalu dikreditkan sebagai pengurang stres hingga risiko penyakit jantung. Namun, ada fakta lain mengenai coklat.

Menurut studi peneliti Northumbria University Inggris pada 2009, coklat bisa membantu orang mengerjakan matematika. Studi menunjukkan, orang bisa menghitung mundur lebih baik setelah mengkonsumsi coklat panas yang mengandung 500 mg flavanols atau lima batang coklat.

Selain itu, antioksidan pada coklat bisa meningkatkan aliran darah ke otak. Studi lain menunjukkan, sedikit coklat hitam bisa mengubah tingkat protein C-reaktif yang berhubungan dengan peradangan di dalam tubuh.

“Pengaruh terbaik diperoleh ketika mengkonsumsi rata-rata 6,7 gram coklat per hari atau setara kotak kecil coklat dua atau tiga kali sepekan,” papar penulis utama studi Northumbria Romina di Giuseppe.

Selama beberapa tahun, studi juga menguak manfaat coklat bagi kesehatan. Menurut studi pada 44 ribu partisipan baru-baru ini, orang yang tiap pekan makan coklat, 22% lebih kebal stroke. Temuan ini dipresentasikan di pertemuan tahunan American Academy of Neurology di Toronto.

Meski coklat terbukti kaya antioksidan flavonoid yang bisa menangkal stroke, studi Sarah Sahib dari McMaster University, Kanada, mencatat, penelitian ‘lebih lanjut diperlukan untuk menentukan coklat benar-benar menurunkan risiko stroke, atau apakah orang bisa sehat cukup dengan makan coklat”.

Pada 2009, studi menemukan, orang yang dinilai sangat tertekan mengalami penurunan tingkat hormon stres setelah makan coklat tiap hari selama dua pekan. Di studi Nestle Research Center Swiss, 30 subyek makan 40 gram coklat hitam tiap hari.

Studi Sunil Kochhar ini menunjukkan, relawan mengalami ‘pengurangan kadar hormon stres dan normalisasi metabolik stres sistemik’ secara signifikan. Mungkin alasan ilmiah inilah yang membuat coklat disebut sebagai ‘makanan para dewa’ di Yunani.

2012 Akan Alami Perubahan Waktu Dunia

INILAH.COM, Washington – Cara manusia menjaga waktu saat ini tidaklah sempurna. Hal ini menyebabkan banyak masalah di komunitas modern. Namun, ilmuwan akan menyempurnakannya pada 2012. Bagaimana?

Ilmuwan di International Bureu of Weights and Measures di Paris, Prancis, mempertimbangkan menghapus bulan depan. Hal ini dilakukan untuk mengubah cara manusia menyebut waktu yang kebanyakan orang tak mengetahui keberadaannya.

Ilmuwan ini berencana menghapus ‘lompatan detik’ dari Coordinated Universal Time (UTC). Kebanyakan orang menyadari adanya lompatan tahun yang akan ada hari ekstra seperti pada akhir Februari yang terjadi tiap empat tahun sekali untuk menyesuaikan dengan rotasi tahunan Bumi.

Namun,lompatan detik memiliki dampak jauh tak terduga, yakni menambahkan detik pada jam dalam pola yang tak prediksi. Hal ini disebabkan pelambatan perlahan rotasi Bumi akibat pasang surut samudera atau daya tarik Bulan.

Sederhananya, sejak dulu, kita harus menghentikan jam selama beberapa detik agar rotasi Bumi bisa sesuai pengukuran waktu. Menghapuskan gangguan kecil ini dapat memastikan tak adanya berhentinya waktu secara mendadak.

Kamis, 05 Januari 2012

Pinnacle Studio 14

Teman yang demen edit video silakan mencoba Pinnacle Studio 14

Pinnacle Studio 14 merupakan program video editing versi terbaru dari Pinnacle. Pinnacle Studio 14 memiliki keunggulan dari Pinnacle Studio versi sebelumnya dengan fasilitas yang lebih lengkap, seperti fasilitas Capture, editing dan burning disk HD, kemampuan AVCHD Cutting-Edge, kompatibelitas Windows Vista, pembangkit musik Scorefitter, antarmuka pengguna baru, pemublikasian web yang disederhanakan, serta kecepatan dan kemampuan yang diperbaiki. Oleh karena itu, dengan Pinnacle Studio 14 kita dapat membuat proyek film atau video yang dibutuhkan dengan mudah dan cepat.

untuk Beragam Kebutuhan, Video Editing ini dibuat untuk editor video, mahasiswa, dan kalangan umum untuk dapat mengolah beragam kebutuhan video editing. Menyajikan berbagai teknik pengolahan dan pengeditan video untuk beragam kebutuhan editing mulai dari teknik pengambilan gambar, mengatur capture format video, mengolah video, memberi efek pada video, dan masih banyak lagi.

Fitur yang Lebih lengkapnya:

* Melakukan Capture dan Pengaturannya
* Teknik Dasar Video Editing
* Video Editing Perkawinan
* Video Editing Layanan Masyarakat
* Video Editing Wisuda
* Video Editing Perjalanan Wisata
* Video Editing Seminar/Workshop
* dan lain-lainnya

System requirements

* Windows® 7, Windows Vista® (SP2),Windows XP (SP3)
* Intel® Pentium® or AMD Athlon™ 1.8 GHz (2.4 GHz or higher recommended) – Intel Core™ 2 or i7 2.4 GHz required for AVCHD* (2.66 GHz for AVCHD* 1920)
* 1 GB system memory recommended, 2 GB required for AVCHD*
* DirectX® 9 or 10 compatible graphics card with 64 MB (128 MB or higher recommended) – 128 MB required for Red Giant Magic Bullet Looks Plug-in: Pixelshader 2 required, Intel GMA integrated graphics not supported. – 256 MB required for HD and AVCHD*
* DirectX 9 or higher compatible sound card
* 3,6 GB of disk space
* DVD-ROM drive to install software
* Accessory:
o CD burner for creating Video CDs or Super Video CDs (S-VCDs)
o DVD burner for creating DVD and AVCHD* discs
o Blu-ray burner for creating Blu-ray discs*
o Sound card with surround sound output required for preview of surround sound mixes

silakan Klik disini

selamat mencoba

BESARAN, SATUAN DAN PENGUKURAN

A.     Besaran dan Satuan v   Pengukuran adalah kegiatan membandingkan besaran dengan satuan atau suatu cara untuk mengetahui besarnya...