Selasa, 08 November 2011

Menguap Bisa Menular?

KOMPAS.com — Umumnya, kita menguap saat merasa bosan, lelah, atau mengantuk. Semua hal itu tak berkaitan secara langsung. Oleh karenanya, hingga kini para ahli masih belum bisa memaparkan penjelasan mengenai mekanisme alamiah pada tubuh manusia ini selalu terjadi. Teori paling populer adalah kita menguap karena kadar oksigen di paru-paru berkurang. Saat membuka mulut dan menghirup udara, oksigen masuk dan kembali memenuhi paru-paru.

Belakangan, muncul pendapat yang seolah menegaskan anggapan bahwa menguap bisa menular. Artinya, saat melihat orang lain menguap, tanpa disadari kita akan ikut menguap. Steven Platek, PhD, psikolog dari State University of New York di Albania, melakukan pengamatan untuk menemukan kejelasan dari fenomena ini. Hasilnya menunjukkan, 40-60 persen relawan cepat "tertular" orang lain yang sedang menguap, baik yang berada di dekatnya ataupun yang mereka lihat di layar kaca. Meski Platek dan timnya belum mampu menjelaskan mekanisme "penularan" ini, mereka yakin kedua hal itu berkaitan.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam edisi terbaru jurnal Cognitive Brain Research ini menyebutkan bahwa bila kita ikut menguap saat orang lain menguap, hal itu bisa dianggap sebagai respons empatetik, sama halnya seperti tertawa. Artinya, menguap menjadi cara dalam menunjukkan empati kita terhadap perasaan orang lain. “Menguap tidak hanya bisa dipicu setelah melihat orang lain menguap, tetapi juga mendengarkan, membaca, atau bahkan berpikir tentang menguap," kata Platek, yang memimpin penelitian tersebut.

Adakah Manfaat Menguap?

Kompas.com - Setiap orang, bahkan sejak masih dalam kandungan, sudah menguap. Kebanyakan spesies vertebrata, bahkan burung dan ikan juga menguap, atau setidaknya melakukan gerakan seperti orang menguap. Akan tetapi mekanisme psikologi, tujuan dan makna dari kegiatan menguap ini masih jadi misteri bagi para ahli.

Sebenarnya sudah cukup banyak penelitian yang mencoba menguak manfaat dari menguap ini. Namun riset yang dilakukan Dr.Adrian G.Guggisberg dan dimuat dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Review menyebutkan tidak satu pun dari teori-teori itu yang terbukti.

Bapak kedokteran Hipokrates menyatakan menguap akan mengeluarkan "udara kotor" dan meningkatkan "udara baik" ke otak. Dalam pandangan modern, teori itu diartikan sebagai kegiatan menguap akan meningkatkan kadar oksigen dalam darah dan mengurangi karbon dioksida.

Menurut Guggisberg, jika teori itu benar, maka seharusnya orang yang sedang berolahraga akan lebih sering menguap. Lagipula para penderita penyakit paru atau jantung yang sering kekurangan oksigen, ternyata frekuensi menguapnya sama saja dengan orang yang sehat.

Dalam sebuah pengukuran juga diketahui orang sehat yang kadar karbondioksidanya tinggi, tidak menguap lebih sering. Bahkan faktanya tidak ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa kadar oksigen dalam otak bisa berubah gara-gara menguap.

Dengan kata lain, penelitian menunjukkan cara paling baik untuk meningkatkan kadar oksigen dalam darah adalah dengan menarik napas lebih sering, bukan menguap.

Frekuensi menguap biasanya meningkat sebelum dan setelah bangun tidur. Perasaan bosan dan lelah juga bisa menyebabkan kita menguap lebih sering. Kemudian muncul hipotesis menguap akan membuat kita lebih segar.

Ketika para peneliti mencoba membuktikannya lewat observasi aktivitas otak menggunakan EEG (encephalography), tidak ditemukan adanya peningkatkan rasa waspada di otak atau sistem saraf pusat.

Guggisberg juga menyebutkan bahwa kegiatan menguap tidak bisa membantu menyamakan tekanan di dalam telinga karena fungsi ini bisa digantikan dengan menelan atau mengunyah.

Ia berpendapat sebenarnya menguap itu tidak menular seperti teori yang baru-baru ini diungkapkan peneliti dari Amerika Serikat. "Spesies yang soliter ternyata juga menguap, jadi bukan hanya manusia dan simpanse yang merupakan mahluk sosial saja yang menguap," katanya.

Peneliti dari University of Geneva, Swiss itu mengatakan menguap merupakan fenomena yang kaya dan kompleks. Saat ini kita memang belum bisa menguak misteri dari menguap ini, namun kelak akan ada ahli yang bisa menjelaskan pada kita apa sebenarnya manfaat kegiatan yang terkesan sepele ini.

Mengapa Menguap Terus?

KOMPAS.com - Kerap menguap tak selalu berarti mengantuk, sehingga tidur juga belum tentu jadi solusmya. Mengantuk bisa saja menjadi salah satu sinyal dari alam bawah sadar bahwa tubuh kurang gerak.

Bekerja lebih dari lima jam di depan komputer, sampai tak ingat bangkit misalnya, bisa membuat kita mengantuk. Mengantuk juga merupakan indikasi otak kekurangan oksigen, yang salah satu penyebabnya, porsi makan yang berlebihan.

Kurangnya oksigen di otak bisa menurunkan kewaspadaan dan konsentrasi terhadap pekerjaan maupun lingkungan sekitar. "Bila makanan yang masuk ke tubuh terlalu banyak, lambung akan sangat penuh, sehingga konsentrasi utama tubuh hanya mengurai makanan," kata Prof. DR. Dr. Moh. Hasan Machfoed, Sp.S(K), MS, spesialis saraf dari RS Dr. Soetomo Surabaya.

Bila banyak oksigen digunakan untuk mengurai makanan, besar kemungkinan organ lain, misalnya otak, yang kekurangan zat O2. Sinyal yang muncul adalah menguap terus-menerus.

Untuk menghindari kondisi tersebut, Prof. Machfoed menyarankan agar kita makan tidak berlebihan.

Tetap mengonsumsi makan utama tiga kali sehari dengan makanan selingan di antara waktu makan utama, namun porsi disesuaikan dengan kapasitas lambung. Dengan pola makan yang teratur, fungsi lambung menjadi optimal. "Lambung jadi mampu membiasakan diri kapan mesti mengolah makanan dan kadar harus istirahat," katanya.

Konsumsi tiga porsi kecil makan utama dan dua jenis kudapan, bisa menjaga kadar gula darah dan tingkat energi stabil sepanjang hari. Sebaliknya, makai dalam porsi besar sekaligus, walaupun jadwalnya berkurang menjadi dua kali sehari, akan langsung meningkatkan kadar gula darah. "Itu malah berbahaya," ucapnya.

Saat makan utama dianjurkan mengandung karbohidrat cukup, lengkap dengan lemak, protein, vitamin dan mineral. Jika sedang menurunkan berat badan, menu makanan tetap harus lengkap, tetapi pilih jenis yang rendah lemak dan rendah kalori. "Kecukupan nutrisi penting agar tubuh mendapat cukup energi untuk beraktivitas," ujarnya.

Tanda Kelainan Saraf

Disebut menguap berlebihan jika dalam 1 menit seseorang menguap 1-4 kali. Menguap berlebihan bisa jadi tanda penyakit serius.

"Ada beberapa hal yang terjadi ketika menguap. Rahang yang terbuka dan memungkinkan menghirup napas panjang. Hal ini, meski sesaat, menciptakan tekanan besar di paru-paru," papar staf pengajar di Departemen Neurologi FK Unair ini.

Sebagian besar gangguan yang berhubungan dengan menguap berasal dari sistem saraf pusat, yakni epilepsi, radang otak, atau tumor otak. Menguap juga menjadi tanda dari reaksi vasovagal. Bisa juga menjadi tanda kecemasan atau rasa bosan.

"Orang menguap untuk berbagai macam alasan. Tidak selalu berarti mengantuk," tuturnya.

Menurut Prof. Machfoed, ilmuwan percaya menguap dapat membantu kita menjadi lebih waspada untuk segera memasukkan oksigen ke otak. Karena menguap adalah salah satu tanda jumlah oksigen di otak menurun yang bisa membuat kita sulit konsentrasi.

Ilmuwan lain beranggapan, menguap justru membantu mengatur suhu tubuh. Dengan menguap, terjadi proses menaikkan tensi dan laju jantung.

Umumnya, menguap tidak berbahaya, walau bisa juga menjadi pertanda kondisi medis yang serius. "Orang-orang yang memiliki penyakit saraf seperti multiple sclerosis dan amyotropic lateral sclerosis (ASL) akan menguap lebih sering dari orang normal," tuturnya.

Orang dengan tekanan darah rendah, misalnya sekitar 90/60 mmHg, juga cenderung Bering menguap yang diikuti rasa mengantuk. Tekanan darah rendah juga membuat orang sering pusing, cepat lelah, dan penglihatan kabur.

Tekanan darah rendah membuat kurangnya darah yang dipompa jantung. Jika darah yang dipompa jantung semakin sedikit, akan semakin rendah tekanan darahnya. Akibatnya, jantung atau otak kekurangan pasokan oksigen dan yang bersangkutan menjadi Bering menguap, pusing, atau lelah.

Banyak menguap, diungkapkan, juga bisa karena reaksi terapi radiasi untuk kanker, atau konsumsi obat-obatan seperti untuk penyakit parkinson. Beberapa antidepresan seperti paroxetine dan setraline bisa menyebabkan menguap berlebihan. Yang menarik, pengidap skizofrenia justru jarang menguap.

Hampir semua makhluk vertebrata selalu menguap. Bahkan, janin manusia mulai menguap ketika berusia 11 minggu. Namun, jika Anda kerap menguap, 1-4 kali dalam satu menit, jangan Began untuk ke dokter.

Sering menguap juga bisa dikarenakan kondisi kelelahan yang teramat sangat. Kelelahan ternyata bisa juga berhubungan dengan adanya infeksi saluran kencing, akibat kontaminasi bakteri Escherichia coli. Bila Anda Sering menguap melebihi Batas normal, cobalah memeriksakan urin ke dokter. Siapa tahu mengalami UTI (urinary tract infection).

Diet ketat sampai tubuh tak cukup mendapat asupan gizi, juga bisa mencetuskan kelelahan. Kalori sama halnya dengan energi. Mengonsumsi makanan dalam porsi seimbang akan membuat kadar gula darah terjaga normal, dan rasa kantuk enggan mendekat.

Disarankan memilih karbohidrat kompleks agar mendapatkan energi yang cukup. Terlalu banyak menyantap nasi putih, mi, kue, atau roti, yang termasuk dalam deretan karbohidrat sederhana, malah mengundang kantuk.

Kelelahan juga bisa disebabkan asupan makanan yang dapat memicu alergi. Selain itu, konsumsi kafein bisa pula membuat tubuh yang sudah letih menjadi semakin letih.

Tabel Periodik Kedatangan Tiga Anggota Baru

INILAH.COM, London – Masih ingat tabel periodik yang kita pelajari semasa SMP? Kini tabel periodik yang sama mendapat tiga anggota baru. Apa saja?

General Assembly of the International Union of Pure and Applied Physics (IUPAP) telah menyetujui nama elemen baru ini, salah satu namanya diberi untuk menghormati astronom Nicolas Copernicus. Elemen ini bernomor 110, 111 dan 112 dan disebut Darmstadtium (Ds), Roentgenium (Rg), dan Copernicium (Cn).

General Assembly yang terdiri dari 60 anggota dari negara berbeda ini menyetujui nama baru ini di pertemuan di Institute of Physics (IOP) di London, kemarin (7/11). Kepala eksekutif IOP dan Sekretaris Jenderal IUPAP Dr Robert Kirby-Harris mengatakan, “Penamaan elemen ini telah disetujui fisikawan di seluruh dunia”.

Meski elemen ini baru disetujui, sebenarnya elemen ini telah lama ditemukan. Namun nama harus secara resmi diberikan pada elemen itu oleh organisasi ilmiah ini. Umumnya, elemen baru diberi nama berdasarkan orang yang menemukannya.

Demikian seperti dikutip DM. [mor]

BESARAN, SATUAN DAN PENGUKURAN

A.     Besaran dan Satuan v   Pengukuran adalah kegiatan membandingkan besaran dengan satuan atau suatu cara untuk mengetahui besarnya...