Kamis, 19 Januari 2012

Perubahan Iklim, Burung Terbang Lebih Cepat

CHIZE, KOMPAS.com - Perubahan iklim dikaitkan dengan perubahan kecepatan angin. Di perairan selatan dekat Antartika, kecepatan angin kini semakin meningkat. Alhasil, burung-burung pun seolah dimudahkan sehingga bisa bergerak lebih cepat.

Salah satu burung yang kini terbukti terbang lebih cepat adalah elang laut. Burung tersebut mengandalkan angin untuk membantunya terbang. Dengan peningkatan kecepatan angin, burung bisa mencari makan lebih cepat.

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, peningkatan kecepatan angin mempersingkat waktu elang laut mencari makan. Dari 12,4 hari pada tahun 1970an menjadi hanya 9,8 hari di tahun 2008.

Makin singkatnya waktu mencari makan membuat waktu puasa elang laut pun lebih pendek. Alhasil, elang laut makin gemuk. Dari pengukuran yang dilakukan, massa elang laut meningkat hampir 1 kg lebih tinggi.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan kecepatan angin sangat menguntungkan," kata Henri Weimerskirch, pakar ekologi burung laut dari Chize Center for Biological Studies, seperti dikutip New York Times, Senin (16/1/2012).

"Peningkatan kecepatan angin umum terjadi di perairan mana saja, tetapi di perairan selatan, hal ini lebih terlihat," imbuh Weimerskirch yang melakukan penelitian di kepulauan Crozet, 40 tahun terakhir.

Semuanya terkesan apik sekarang. Tapi, bagaimana jika kecepatan angin terus meningkat dan melampaui batas. Hal ini pasti akan merugikan burung dan boleh jadi mengakibatkan kematian massal jenis tertentu.

Sebab peningkatan angin di Antartika belum bisa dipastikan. Namun, diperkirakan perubahan iklim merupakan salah satu pemicunya. Lubang ozon juga faktor yang mempengaruhi

Karbondioksida Merusak Otak Ikan

QUEENSLAND, KOMPAS.com - Karbondioksida (CO2) yang konsentrasinya terus meningkat terbukti berpengaruh terhadap ikan yang hidup di lautan. Demikian hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change

baru-baru ini.

"Dan sekarang cukup jelas bahwa gas CO2 menyebabkan kerusakan signifikan pada sistem saraf pusat ikan, yang akan berdampak pada ketidakmampuan untuk survive," ungkap Phillip Muday, peneliti, seperti dilaporkan AFP, Senin (16/1/2012).

"Kami menemukan bahwa peningkatan CO2 terlarut di laut bisa mempengaruhi fungsi neurotransmitter secara langsung, yang akan menjadi ancaman langsung dan tak pernah dikenal sebelumnya," tambah Munday.

Munday mempelajari bagaimana perilaku baby clownfish atau ikan nemo dan damselfish (Stegastes nigricans) di tengah predator pada lingkungan yang kadar CO2-nya tinggi. Peneliti menemukan bahwa konsentrasi CO2 memang mempengaruhi baby clownfish dan damselfish.

"Hasil kami menunjukkan bahwa kemampuan membaui para bayi ikan terganggu oleh besarnya konsentrasi CO2 dalam air, artinya bahwa mereka sulit menemukan karang untuk berlindung maupun mendeteksi bau ikan predator," jelas Munday.

Hasil juga menunjukkan bahwa indera pendengaran ikan juga terganggu akibat kadar CO2 tinggi. Ini menyebabkan ikan lebih rentan terhadap predator. Sementara itu, ikan juga kehilangan insting untuk bergerak ke kiri dan kanan.

"Ini semua menunjukkan pada kita bahwa bukan kerusakan ringan yang terjadi pada indera mereka, tetapi bahwa level CO2 yang tinggi mempengaruhi seluruh sistem saraf pusat," papar Munday.

Munday mengatakan, 2,3 miliar ton emisi CO2 terlarut dalam air setiap tahunnya. Ini akan mengancam ikan dan organisme laut lain. Riset ini dilakukan oleh Center of Excellence for Coral Reef, Australia

Ular beranak tanpa kawin

KOMPAS.com - Reproduksi aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa disertai pembuahan sel telur oleh sperma, adalah hal yang umum terjadi pada hewan tak bertulang belakang. Tapi, reproduksi cara tersebut bisa sangat mengejutkan bila terjadi di kelompok hewan bertulang belakang atau yang sering disebut vertebrata, walaupun bukan berarti tidak ada.

Baru-baru ini peneliti dikejutkan dengan adanya spesies ular yang mampu bereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebut partenogenesis. Spesies tersebut adalah Boa constrictor, atau biasa disebut boa, golongan ular tak berbisa yang memiliki badan relatif besar dan biasa ditemukan di Karibia, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Temuan itu dimulai ketika Warren Booth, ahli Genetika Populasi dan Evolusi dari Virginia State University, menemukan seekor boa yang melahirkan 22 anakan. Boa yang ditemukan di Boa Store Tennesee ini melahirkan anakan yang seluruhnya betina dan karakteristiknya sama dengan induknya, berwarna karamel.

Setelah melakukan tes DNA pada boa betina yang ditemukan dan pejantan yang ada di tempat tersebut, Booth sangat yakin bahwa boa yang ditemukannya bereproduksi secara partenogenesis. Pasalnya, tak mungkin anakan yang dihasilkan memiliki karakter yang jarang itu jika tidak menuruni gen dari kedua induknya.

Booth menemukan sesuatu yang unik pada partenogenesis boa ini. "Partenogenesis ini dilakukan saat ada pejantan di tempat itu," ujar Booth. Hal tersebut, menurut Booth, berbeda dengan partenogenesis pada umumnya yang dilakukan ketika tak menemukan pasangan kawin. Hingga kini, Booth belum menemukan alasan partenogenesis pada ular tersebut.

Keunikan yang lain adalah materi genetik yang terdapat pada anakan. Pada ular, anakan jantan biasanya akan memiliki kromoson ZZ dan anakan betina memiliki kromosom ZW. Namun, anakan boa ini berbeda sebab kromosom anakannya adalah WW dan berjenis kelamin jantan. "Ini mengejutkan. Selama ini, ilmuwan berpandangan bahwa anakan dengan kromosom WW tidak akan berkembang," jelas Booth.

Booth mengatakan, kemampuan boa dalam melakukan partenogenesis ini bisa berdampak negatif. "Mereka kehilangan jumlah keanekaragaman genetik. Boa itu akan cenderung secara fisik dan fisiologi yang berpengaruh pada kemampuannya untuk survive dan bereproduksi," terang Booth. Perhatian pada cara bereproduksi ini, menurut Booth, sangat penting dalam mengupayakan konservasi ular.

Hasil penelitian Booth dipublikasikan di jurnal online Biology Letters pada tanggal 3 November 2010

Ular Merasakan Denyut Jantung Mangsa

PENNSYLVANIA, KOMPAS.com - Ilmuwan menemukan bahwa ular boa konstriktor mempunyai kemampuan untuk merasakan denyut jantung mangsa. Penemuan dipublikasikan di jurnal Royal Society Biology Letters yang terbit bulan ini.

Penemuan itu terungkap setelah ilmuwan melakukan eksperimen dengan ular boa konstriktor, tikus mati dan jantung palsu yang terbuat dari kantung berisi air dan disambungkan ke selang, menjadi simulasi jantung dan pembuluh darah.

Jantung palsu dipasang di tikus yang telah mati. Selanjutnya, ilmuwan membiarkan ular memangsa tikus ini. Dalam waktu tertentu, detakan jantung palsu bisa dimatikan dengan remote control. Untuk mengukur kuat lilitan dan tekanan ular, ilmuwan juga menaruh sensor pada tikus mati.

Ilmuwan mendapatkan fakta bahwa ular boa konstriktor baru melepaskan mangsanya ketika sudah mati atau detak jantungnya berhenti. Ketika ilmuwan mempertahankan jantung palsu berdetak lebih lama, mereka menemukan bahwa ular boa konstriktor juga melilit lebih lama.

Scott Boback dari Dickinson College, Universitas Pennsylvania, seperti dikutip BBC, Rabu (18/1/2012) mengatakan, "Selama melilit, ular sebenarnya merasakan detak jantung mangsanya."

Ia menambahkan, "Banyak dari kita yang berpikir bahwa ular adalah pembunuh berani, tidak punya fungsi kompleks seperti yang dimiliki vertebrata yang lebih tinggi. Kami menemukan sebaliknya dan menduga bahwa sensitivitas yang luar biasa ini adalah kunci kesuksesan seluruh bangsa ular."

Ular perlu merasakan detak jantung mangsa untuk efisiensi energi. Ketika sudah tahu mangsa mati, lilitan dilonggarkan sehingga lebih sedikit energi yang dikonsumsi.

Kepiting Karapas Coklat Ditemukan di Papua

JAKARTA, KOMPAS.com — Satu lagi spesies baru dari Indonesia ditemukan. Spesies baru kali ini bernama Macrophthalmus fusculatus, sejenis kepiting yang punya karapas berwarna coklat.

Penemunya ialah dua staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dwi Listyo Rahayu dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Loka Bio Industri Laut di Mataram dan Dharma Arif Nugroho dari UPT Loka Konservasi Biota Laut Ambon. Keduanya bernaung di bawah Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok, mengatakan bahwa jenis Macrophthalmus fusculatus memiliki beberapa ciri khas.

"Spesies ini bentuk karapasnya melebar di bagian posterior (bagian karapas yang terletak di antara kaki kelima), dan bentuk capitnya memanjang," ungkap Dwi lewat surat elektronik kepada Kompas.com, Rabu (18/1/2012).

"Secara sepintas jenis ini tampak kusam, berlumpur, dan kotor. Tetapi setelah dibersihkan dari lumpur, maka akan terlihat karapas yang berwarna coklat dengan beberapa kelompok tonjolan-tonjolan kecil (tubercles), dan capitnya yang halus. Menurut saya terlihat cantik dibawah mikroskop," tambah Yoyok.

Nama spesies ini sendiri diambil dari ciri khas karapas yang berwarna coklat. Secara harafiah, kata bahasa latin fuscus dalam bahasa Indonesia berarti coklat.

Macrophthalmus fusculatus memiliki ukuran kecil. Diameter karapasnya hanya 4-10 sentimeter. Sementara, habitatnya adalah pada substrat pasir berlumpur di hutan bakau.

"Sampai saat ini hanya ditemukan di hutan bakau di daerah Timika, Papua," kata Yoyok. Meski demikian, terbuka kemungkinan untuk menemukannya di perairan lain seperti Maluku dan Sulawesi.

Proses identifikasi spesies ini sebagai spesies baru memerlukan waktu cukup lama, 10 tahun.

"Macrophthalmus fusculatus pertama kali dikoleksi pada tahun 2001 ketika saya mendapat kesempatan untuk melakukan penelitian di Timika, Papua. Pada saat itu biota tersebut diidentifikasi sebagai jenis (species) yang sudah dikenal," tutur Yoyok.

Namun, Yoyok dan rekannya terus mengumpulkan spesimen-spesimen organisme yang masuk genus Marcophthalmus dari Papua dan Lombok. Sejak tahun 2008, pengamatan secara lebih detail dimulai. Hasil pengamatan dan perbandingan dengan koleksi genus Macrophthalmus di Raffles Museum of Biodiversity Research di Singapura menunjukkan bahwa kepiting karapas coklat ini spesies baru. Macrophthalmus fusculatus positif dinyatakan sebagai spesies baru pada tahun 2011.

Bersama penemuan spesies Macrophthalmus fusculatus ini, Yoyok dan rekannya juga menemukan 14 spesies lain dari genus Macrophthalmus, di antaranya spesies Macrophthalmus abbreviatus dan Macrophthalmus sulcatus malaccensis yang eksistensinya di Indonesia baru diketahui kali ini.

Penemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan jenis Macrophthalmus. Genus yang bercirikan tubuh pipih dan tangkai mata panjang ini diketahui hanya hidup di wilayah Indo-Pasifik Barat, mulai Laut Merah, Samudra Hindia, dan perairan Jepang. Penemuan organisme yang berhabitat di wilayah pesisir ini mempertegas bahwa hutan bakau dan wilayah pesisir perlu dijaga kelestariannya.

Penelitian Yoyok dan Dharma Arif Nugroho dipublikasikan di jurnal internasional taksonomi, Zootaxa, Kamis (12/1/2012).

Makhluk Setengah Hewan Setengah Tumbuhan

COPENHAGEN, KOMPAS.com — Penemuan spesies baru Mesodinium chamaeleon mengagetkan para ilmuwan. Spesies ini menarik perhatian karena karakteristiknya setengah hewan setengah tumbuhan. Ilmuwan yang semula menganggap bahwa tak mungkin ada makhluk di antara hewan dan tumbuhan pun harus berpikir ulang.

Mesodinium chamaeleon sebenarnya adalah organisme sel tunggal. Karakteristik yang membuatnya bisa dikatakan hewan adalah adanya cilia, organ sel yang digunakan untuk bergerak. Adanya organ memungkinkan spesies ini bergerak secara aktif mencari makan seperti layaknya hewan.

Sementara itu, karakteristik yang membuatnya dikatakan tumbuhan ialah adanya simbiosis dengan alga. Mesodinium chamaeleon "menelan" alga, membiarkannya tetap utuh dan berfotosintesis. Mesodinium chamaeleon juga membawa alga bergerak dan mengubah penampakan dirinya seperti warna alga, yakni merah atau hijau.

Ojvin Mooestrap, peneliti dari Universitas Copenhagen, Denmark, yang menemukan spesies itu seperti dikutip New Scientist, Jumat (13/1/2012), menyatakan, "Pembagian antara hewan dan tumbuhan benar-benar tidak ada." Mooestrap mengungkapkan, banyak organisme mungkin gabungan di antara keduanya.

Mesodinium chamaeleon ditemukan di Pantai Niva, Denmark. Spesimen lainnya juga ditemukan di lepas pantai Finlandia dan Rhode Island. Temuan organisme setengah tumbuhan cukup jarang. Selain Mesodinium chamaeleon, organisme yang punya ciri hampir sama ialah Mesodinium rubrum.

Bentuk simbiosis yang dilakukan Mesodinium chamaeleon dengan menelan alga disebut endosimbiosis. Bentuk simbiosis ini ialah yang terpenting dalam evolusi. Dua miliar tahun lalu, organisme sel tunggal menelan bakteri dan memperbudaknya sebagai pabrik energi. Akibat proses ini, terciptalah mitokondria yang pada organisme multisel dikenal sebagai pabrik energi.

Mesodinium chamaeleon mencerminkan bagaimana endosimbiosis berkembang. Penemuannya dipublikasikan di Journal of Eukaryotic Microbiology baru-baru ini
INILAH.COM, Jenewa – Waktu dunia akan segera mendapat tambahan beberapa detik agar selaras dengan pergerakan Bumi. Para ahli mempertimbangkan akan melakukan ini pekan ini.

Coordinated Universal Time (UTC) berdasarkan sekitar 400 jam atomik di lab yang ada di seluruh dunia di mana sering kali dikoreksi beberapa detik untuk menyelaraskannya dengan ragam rotasi Bumi seperti dikutip Foxnews.

Setelah bertahun-tahun berdebat, delegasi International Telecommunication Union (ITU) akan memutuskan hal ini hari ini, Kamis (19/1).

“Mustahil meramalkan kapan waktu tepat melakukan penambahan beberapa detik ini,” kata kepala ITU Vincent Meens.

Alasan penyelarasan ini adalah karena rotasi Bumi dan gempa yang memperlambat Bumi, lanjutnya.

“Semua sistem komputer perlu disesuaikan beberapa detik dan hal ini akan menciptakan masalah, karenanya hal ini harus dilakukan secara manual,” katanya.

ITU mengatakan, 13 dari 16 negara menyatakan hal ini memang harus dilakukan. Di sisi lain, Inggris, China dan Kanada menentang perubahan ini karena menurut Negara tersebut, hal ini akan menimbulkan kesenjangan antara waktu Bumi dan waktu atomik sekitar 15 detik di tiap 100 tahun.

ppt struktur bumi

  klik disini