Minggu, 06 Februari 2011

Mengapa Beo Jadi Burung Teraneh?


INILAH.COM, Jakarta - Burung Beo dikagumi karena kemampuannya meniru perkataan manusia. Namun, burung ini memiliki keanehan yang membuatnya lebih dikenal. Apa itu?

Tak hanya berbicara, hewan ini ternyata pemilih saat gunakan tangan. Ilmuwan yang mempelajari 320 burung beo dari 16 spesies Australia mencari tahu penggunaan 'tangan', alias sayapnya, untuk menggapai makanan.

Studi menyatakan, 47% beo lebih sering menggunakan tangan kiri. Di sisi lain, 33% menggunakan tangan kanan. Selain itu, burung beo muda memang berganti-ganti saat menggunakan tangan.

Namun, seiring waktu, burung beo akan memilih satu tangan untuk selamanya. Hal ini dikatakan oleh Dr. Calum Brown dari Macquarie University, Sydney, Australia, yang memimpin studi ini.

“Pada dasarnya, Anda dapat melihat hubungan sangat erat antara mata yang mereka gunakan untuk melihat mangsa dan tangan yang mereka gunakan untuk menggapainya. Burung beo merupakan hewan paling konsisten," paparnya.

Di beberapa spesies, tingkat kekuatan tangan, baik kanan ataupun kiri, sama saja sehingga tidak ada variasi yang efektif.

“Namun bagi Kakaktua sulphur-crested, sebagian besar mereka menggunakan tangan kiri. Jika Anda melihat burung yang masih muda, mereka akan memanfaatkan keduanya namun memilih salah satu saat dewasa.”

Ide pemilihan salah satu tangan lebih sering daripada yang lain, dalam dunia manusia, dikenal dengan nama lateralisasi yang berarti gagasan wewenang yang diterapkan pada otak untuk fungsi tangan yang berbeda dari lainnya.

Bagi burung beo, mereka hanya memikirkan keuntungan lebih, terlepas dari dominasi kanan atau kiri.

Kemampuan ini memungkinkan efisiensi lebih besar. Sama seperti komputer dengan dua prosesor yang bisa melakukan dua hal secara bersamaan sehingga efektif. Ini yang mungkin terjadi pada burung beo, kesimpulan studi yang diterbitkan di Biological Letters ini. [vin]

Kutu Air Kalahkan Manusia

INILAH.COM, Jakarta - Kutu mungkin tampak seperti kehidupan sederhana di kolam. Namun dalam lingkup kompleksitas genetik, kutu air bahkan bisa mengalahkan manusia. Seperti apa?



Ilmuwan yang mempelajari makhluk berukuran kurang dari satu milimeter ini berhasil menemukan informasi mengejutkan. Secara keseluruhan, kutu air Daphnia pulex memiliki 31.000 gen di dalam DNA mereka.

Di sisi lain, manusia hanya memiliki 23.000 gen. Hewan itu merupakan krustasea pertama yang memiliki cetak biru urutan bahan kimia pembentuk kode genetik atau genom.

“Kami memperkirakan rasio ini tiga kali lebih besar dari invertebrata lain serta 30% lebih tinggi dari manusia,” ujar direktur proyek genom Dr. John Colbourne.

Daphnia sekilas tampak biasa dengan tubuh trasnparan, anggota badan saling terkait, mata majemuk serta sistem saraf dan peredaran darah yang sederhana.

“Namun, lebih dari sepertiga gen Daphnia tidak tercatat di organisme lain. Artinya, mereka benar-benar baru bagi ilmu pengetahuan,” ujar Dr. Don Gilbert, anggota tim peneliti di Indiana University.

Makhluk ini dapat bereproduksi secara seksual dan aseksual. Mereka mampu berkembang biak tanpa pejantan dengan reproduksi klonal. Dengan tingkat duplikasi gen yang tinggi, inilah alasan mengapa Daphnia memiliki gen begitu tinggi, seperti dikutip dari jurnal Science.

Hewan itu memiliki cara unik untuk menanggapi stres. Beberapa spesies memunculkan dua ekor tambahan, gigi di leher atau helm pelindung ketika merasa terancam predator.

Daphnia juga bisa beradaptasi dengan lingkungan ekstrim seperti keasaman tinggi, racun, konsentrasi oksigen minim, kualitas makanan dan suhu yang berubah drastis. [vin]

Selasa, 14 Desember 2010

Bakteri Bisa Dipakai untuk Penyimpan Data


Bakteri sanggup bertahan dari berbagai macam bencana yang dapat menghancurkan harddisk.
Ide menyimpan data di dalam bakteri sudah terlintas sekitar satu dekade terakhir. Pertimbangannya, bakteri yang paling sederhana sekalipun memiliki untaian DNA panjang yang bisa menyimpan enkripsi data.

Selain itu, secara alamiah, bakteri jauh lebih tahan terhadap kerusakan dibanding media penyimpanan elektronik manapun. Ia sanggup bertahan dari berbagai macam bencana yang dapat menghancurkan harddisk.

Reproduksi alami bakteri juga dapat dimanfaatkan untuk membuat duplikasi data dan menjaga integritas informasi yang disimpan. Ini juga membuat proses pengambilan kembali data dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Berpedoman pada pemikiran tersebut, sekelompok peneliti asal The Chinese University of Hong Kong mencari cara bagaimana menyimpan data ke dalam DNA bakteri. Ternyata tidak sulit.

Pada bakteri, ada empat basis DNA yang bisa digunakan untuk membuat untaian DNA yakni Adenine (A), Cytosine (C), Guanine (G), dan Thymine (T). Artinya, penyimpanan akan menggunakan sistem angka basis empat.

Pada laporannya, seperti dikutip dari i09, 9 Desember 2010 peneliti memberi contoh mengubah kata “iGEM” ke dalam kode yang siap disimpan dalam DNA.

Mereka menggunakan tabel ASCII untuk mengonversi setiap huruf ke dalam nilai numerik misalnya i = 105, G = 71, dan seterusnya. Angka ini kemudian diubah menjadi penomoran basis 4 yakni 105 menjadi 1221, 71 menjadi 0113 dan seterusnya.

Angka basis 4 ini kemudian diubah ke dalam sistem DNA yang menggunakan kode A, T, C, dan G di mana A menggantikan angka 0, T menggantikan 1, C menggantikan angka 2, dan G pengganti angka 3. Jadi, kata iGEM disimpan di dalam DNA sebagai ATCTATTGATTTATGT.

Setelah data mentah siap, peneliti menyebutkan, beberapa algoritma bisa digunakan untuk menyingkirkan informasi repetitif atau redundan. Ini bukan hanya dapat menghemat ruang, banyaknya repetisi dalam untaian DNA secara biologis berpotensi membahayakan DNA dan bakteri tersebut. Berarti, penggunaan algoritma itu akan mengatasi dua masalah sekaligus.

Yang jadi masalah, untaian DNA tidak cukup panjang untuk menyimpan informasi kompleks seperti foto atau buku. Solusi terbaik adalah memecah data menjadi bagian-bagian kecil dan menyebarkannya pada sel yang berbeda.

Agar berhasil, peneliti membuat sistem yang memungkinkan pecahan-pecahan data diidentifikasi dan kemudian disusun ke dalam urutan yang benar. Untuk itu, mereka membuat tiga struktur bagian untuk seluruh DNA yakni header, message, dan checksum.

Header merupakan rangkaian sepanjang 8 bagian yang dibagi ke dalam empat level informasi yakni zona, kawasan, area, dan distrik yang memungkinkan setiap bagian dikembalikan ke dalam urutan yang tepat.

Setelah pesan yang membawa data sebenarnya dihantarkan, checksum menyediakan repetisi dari header awal yang berguna untuk mengontrol mutasi yang mungkin terjadi pada bakteri yang bersangkutan.

Setelah informasi dienkripsi dan ditempatkan pada banyak sel yang berbeda di bakteri, bagaimana cara pemilik data mengambil kembali data yang disimpan oleh bakteri yang bersangkutan?

Sebuah decrypter akan mengambil DNA dan menjalankannya pada sebuah teknologi yang disebut next-generation high-througput sequencing, atau NGS.

Tipe sequencing ini dapat menganalisa dan membandingkan banyak kopi dari sequence yang sama dan menggunakan modus terbanyak untuk mengetahui basis data mana yang benar dan data mana yang telah mengalami perubahan. Setelah itu, algoritma kompresi akan dibalikkan untuk mengembalikan data mentah ke dalam bentuk aslinya.

Langkah terakhir adalah menyusun kembali pecahan-pecahan data dalam urutan yang benar agar rangkaian DNA tersebut bisa diterjemahkan kembali menjadi data yang dapat digunakan.

Sampai tahap ini, data sudah disimpan dan mengalami enkripsi. Orang yang ingin membaca data tersebut membutuhkan formula yang mengetahui urutan yang benar dari header dan checksum. Tanpa formula tersebut, data yang ia miliki tidak dapat digunakan.• VIVAnews

1 Gram E. coli Mampu Tampung 900TB Data


Bakteri mampu menyimpan hampir 500 kali lipat lebih banyak dibanding harddisk saat ini.

Para peneliti asal Hong Kong telah menemukan cara untuk menyimpan data di dalam DNA bakteri. Ternyata, bakteri yang digunakan sebagai sampel, bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data.

Dalam uji coba awal, seperti dikutip dari i09, 15 Desember 2010, peneliti meng-encode sebuah pesan singkat ke dalam sebuah vektor bersama dengan dua pengulangan yang dibalik.

Kemudian, peneliti mendesain sebuah primer yang menarget pesan yang sudah di-encode baik dalam orientasi normal ataupun dalam orientasi tambahan yakni yang sudah dibalik.

Kedua set primer tersebut bisa digunakan untuk meng-generate produk PCR (Polymerase Chain Reaction). Ini mengindikasikan bahwa pesan ter-encode hadir di pesan yang sudah direkombinasi dan di dalam bentuk normal. Hasil ujicoba pengulangan juga mengonfirmasikan akurasi produk PCR yang bersangkutan.

Peluang dari penggunaan bioteknologi ini sendiri sangat luar biasa. Peneliti menemukan, satu gram sek bakteri E. coli mampu menyimpan hingga 900 ribu gigabyte atau 900 terabyte data. Artinya, bakteri mampu menyimpan hampir 500 kali lipat lebih banyak dibandingkan harddisk terbesar saat ini.

Sebagai contoh, harddisk komputer desktop berkapasitas 1,5 terabyte saat ini umumnya memiliki bobot seberat 1 kilogram. Jika harddisk itu terbuat dari bakteri, maka kapasitasnya menjadi 900 petabyte.

Lalu, apakah menggunakan bakteri E. coli untuk menyimpan data tidak berpotensi menimbulkan penyakit?

Tak perlu khawatir. Peneliti sudah menemukan rangkaian non-virulent dari bakteri tersebut. Bakteri E. coli yang digunakan sudah didesain sedemikian rupa sehingga hanya berfungsi menyimpan data di DNA dan melakukan reproduksi, dan DNA yang digunakan tidak meng-encode protein yang berpotensi berbahaya.• sumber VIVAnews.com

Minggu, 14 November 2010


Rata-rata bayi mempunyai tinggi kira-kira satu kaki, delapan inci pada waktu dilahirkan. Dalam waktu 20 tahun berikutnya, manusia berkembang tiga kali lipat dari panjang tubuh ketika ia dilahirkan dan mencapai tinggi rata-rata sekitar lima kaki delapan inci.

Mengapa manusia tidak terus bertumbuh? Apa yang membuat tubuh berhenti bertambah besar? Di dalam tubuh terdapat sistem kelenjar-kelenjar yang dinamakan kelenjar-kelenjar endokrin yang mengendalikan pertumbuhan tubuh kita.

Kelenjar-kelenjar endokrin adalah: kelenjar tiroid (kelenjar gondok) di leher, kelenjar di bawah otak yang menempel pada otak, kelenjar timus yang terdapat di dalam dada, dan kelenjar kelamin. Kelenjar di bawah otak adalah kelenjar yang merangsang pertumbuhan tulang-tulang kita.

Jika kelenjar itu terlalu banyak bekerja, lengan dan kaki kita tumbuh terlalu panjang serta tangan dan kaki kita menjadi terlalu besar. Jika kelenjar tidak bekerja cukup keras, kita mungkin akan tumbuh sebagai orang kerdil.

Seorang anak dilahirkan dengan kelenjar timus yang besar dan kelenjar itu tetap menjadi semakin besar selama masa kanak-kanak. Ketika seorang anak mencapai usia 13 atau 14 tahun, kelenjar timus mulai menyusut.

Kelenjar timus dan kelenjar kelamin mungkin mempunyai hubungan tertentu. Selama kelenjar timus bekerja, kelenjar-kelenjar kelamin tetap kecil. Pada waktu kelenjar-kelenjar kelamin berkembang, kelenjar timus berhenti bekertja. Inilah sebabnya mengapa ketika seseorang menjadi dewasa secara seksual pada usia kira-kira 22 tahun, ia akan berhenti bertumbuh!

Kadang-kadang kelenjar-kelenjar kelamin terlalu cepat berkembang dan menghambat pertumbuhan kelenjar timus lebih cepat. Hal ini sering kali membuat seseorang mempunyai tinggi badan di bawah rata-rata.

Karena kaki kita bertumbuh lebih lambat dan lebih dari bagian-bagian tubuh lainnya, perkembangan awal ini membuat kaki menjadi pendek. Itulah sebabnya mengapa orang-orang berkembang terlalu cepat sering kali bertumbuh pendek dan gemuk. Napoleon adalah contoh dari jenis orang ini.

Jika kelenjar-kelenjar kelamin berkembang terlalu lambat, kelenjar timus tetap bekerja dan orang itu menjadi lebih tinggi dari ukuran tinggi rata-rata. Sebenarnya, kita tetap bertumbuh sedikit bahkan setelah mencapai usia 25 tahun, dan kita mencapai tinggi maksimum kira-kira pada usia 35 atau 40 tahun.

Setelah itu tubuh kita menyusut kira-kira setengah inci setiap 10 tahun sekali! Alasan untuk ini adalah mengeringnya tulang-tulang rawan di dalam sendi-sendi kita dan di dalam tulang belakang pada waktu kita bertambah tua.

Sumber :
aku-ingin-tahu.blogspot.com

Cinta itu ilmiah, kata ilmuwan

Peneliti dari Syracuse University, Profesor Stephanie Ortigue, menemukan ada 12 area pada otak yang bekerja pada saat seseorang jatuh cinta. Kedua belas area itu menghasilkan bahan kimia, seperti dopamine, oxytocin, adrenalin, dan vasopression, yang berujung pada euforia. Rasa cinta juga memengaruhi fungsi psikologi, metafora, dan penilaian fisik.

Jadi, cinta itu berasal dari hati atau otak? "Pertanyaan yang selalu sulit dijawab. Saya berpendapat asalnya dari otak," kata Ortigue. "Contohnya, suatu proses di otak kita bisa menstimulasi hati. Beberapa perasaan dalam hati kita sebetulnya merupakan gejala atas proses yang terjadi di otak."

Penelitian lain mendapati peningkatan jumlah darah dalam faktor penumbuh untuk syaraf yang memegang peranan penting dalam cara orang bersosialisasi. Hal ini menghadirkan fenomena yang disebut dengan "cinta pada pandangan pertama". Hal ini dikonfirmasi oleh temuan Ortigue yang menyebutkan kalau cinta bisa hadir dalam waktu seperlima detik.

Ortigue menjelaskan dengan memahami cara orang jatuh cinta dan putus cinta, para peneliti bisa mengembangkan terapi baru. "Kita bisa mengerti penyakit putus cinta," kata Ortigue.

Studi Ortigue juga mendapati ada bagian otak yang berbeda untuk tipe cinta yang berbeda. Cinta tanpa syarat, contohnya cinta seorang ibu pada anaknya, dipicu oleh aktivitas otak di bagian umum dan pada tempat yang berbeda-beda, termasuk otak tengah. Cinta yang bergairah antara kekasih melibatkan area kognitif, bagian yang mengharapkan imbalan, dan penilaian fisik.
sumber: www.nationalgeographic.co.id

Jumat, 05 November 2010

Sebelum Memutuskan Masalah Pelik, Tidurlah Dulu


Apabila Anda diminta untuk memutuskan sebuah persoalan pelik, tidur dan lupakan masalah itu untuk sementara. Setelah itu Anda akan mendapati jawaban yang benar.

Sebuah penelitian yang dilakukan Radboud University, Belanda dan telah dipublikasi Journal of Consumer Psychology mengungkapkan cara terbaik untuk memecahkan suatu masalah yang rumit adalah untuk tidak berpikir tentang hal itu.

Mengalihkan perhatian atau tidur selama beberapa menit justru akan membantu otak untuk bekerja dan memikirkan solusi yang tepat.

Karena mereka yang sadar dan berusaha keras untuk mengatasi persoalan itu memiliki potensi lebih besar untuk mendapatkan jawaban yang salah ketimbang mereka yang "meletakkan" terlebih dahulu masalah tersebut.

Untuk mengetahui bahwa mengalihkan perhatian atau tidur akan membawa jawaban yang tepat, ketua tim peneliti Maarten Bos dari Radboud University, Belanda meminta sejumlah siswa untuk memilih model sebuah mobil yang paling keren, irit bahan bakar dan paling kencang larinya.

Setelah para siswa membaca spesifikasi mobil tersebut, satu kelompok dari mereka diminta membuat pilihan instan atau seketika itu juga. Sementara kelompok siswa lainnya diminta beristirahat atau melakukan aktivitas lain selama lima menit sebelum membuat keputusan mengenai mobil yang sesuai kriteria tadi.

Ternyata para siswa yang diberi waktu untuk berpikir mampu memilih mobil dengan spesifikasi terbaik. Dari situ Bos percaya bahwa seseorang memiliki pikiran bawah sadar yang ikut "mempertimbangkan" baik buruknya suatu masalah.

"Keputusan yang diambil dalam kondisi pikiran tenang akan lebih baik," kata psikolog itu. "Ketenangan akan memudahkan kita untuk membedakan antara aspek-aspek penting dan tidak relevan."

Sumber :
Dailymail | Rini K - www.tempointeraktif.com

ppt struktur bumi

  klik disini